Khutbah Jumat Corona
Heri Susanto, 20 Maret 2020
KHUTBAH
PERTAMA
إنَّ
الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن
لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُولُه
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ،
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا
أَمَّا بَعْدُ
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin sidang jum’ah yang
berbahagia,
Saat ini kita semua dihadapkan
terjadinya wabah virus Covid 19 atau dikenal juga dengan virus Corona. Badan kesehatan dunia, WHO, menyatakan
bahwa wabah virus ini sebagai pandemi yang menjadi masalah global. Pemerintah
Indonesia pun telah menjadi virus corona ini menjadi bencana nasional. Virus
corona jenis baru yang mewabah mulai akhir tahun 2019 di Wuhan China ini, kini
telah menyebar ke 140 lebih Negara/Wilayah di dunia. Di seluruh dunia terdata
lebih dari 150 ribu kasus yang terkonfirmasi dan telah menyebabkan 5.500 orang
lebih meninggal dunia. Massifnya penyebaran virus ini menyebabkan beberapa
negara atau wilayah telah melakukan kegiatan lockdown untuk memutus mata rantai
penyebaran virus ini.
Dua kasus positif Corona di DI Yogyakarta,
beberapa orang dalam pengawasan, pasien dalam pengawasan tersebar di berbagai kecamatan
tiap kabupaten, alhamdulillah Kecamatan Temon belum terdapat ODP maupun PDP.
Hadirin sidang jum’ah yang
berbahagia,
Kasus wabah virus corona ini
adalah bagian dari bencana non alam. Dalam perspektif ajaran Islam, bencana
dapat dimaknai sebagai musibah yang bisa menimpa kepada siapa saja, kapan dan
di mana saja. Musibah adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap
manusia. Sebagaimana Allah tegaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 155,
yang berbunyi:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ
وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ayat ini menunjukkan kepada
kita bahwa musibah atau bencana adalah hal niscaya yang harus dihadapi oleh
setiap manusia. Bencana, apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan bentuk kasih
sayang Allah kepada manusia. Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada
hakikatnya merupakan ujian dan cobaan atas keimanan dan perilaku yang telah
dilakukan oleh manusia itu sendiri. Ketauhidan seorang mukmin akan menuntunkan
bahwa berbagai peristiwa yang menimpa manusia bukanlah persoalan, karena
manusia hidup pasti akan diuji dengan berbagai persoalan.
Peristiwa yang merupakan
musibah merupakan takdir Allah. Takdir di sini dimaknai dengan sebuah ketetapan
dan ketentuan Allah yang telah terjadi di hadapan kita. Hanya Allah saja yang
mengetahui ketetapan dan ketentuan-Nya. Manusia hanya dapat mengetahuinya
ketika ketetapan dan ketentuan tersebut terjadi. Adapun ketika ketetapan dan ketentuan
yang akan terjadi pada manusia juga tidak mengetahuinya, hanya Allah saja yang
Maha Tahu. Dengan demikian, manusia wajib memohon kepada Allah dan berusaha
untuk menyikapinya dengan penuh kesabaran dalam rangka merubah keadaan yang
dihadapinya menjadi lebih baik. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya surat
al-Anfaal ayat 53:
ذَٰلِكَ
بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ
حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Yang demikian
[siksaan] itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merobah
sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum
itu merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Hadirin sidang Jum’ah yang
dimuliakan Allah SWT
Epidemi adalah kejadian
berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi dari keadaan lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Sebagai bagian dari bencana, maka
kasus virus corona ini harus disikapi secara cepat dan tepat. Seluruh pihak
harus memiliki kepedulian untuk terlibat aktif dalam pencegahan penyebaran
virus ini. Tentunya di antara pihak yang paling bertanggungjawab adalah pihak
pemerintah. Karena pemerintah lah yang mengemban amanat rakyat dalam pengaturan
urusan hidup yang berkaitan dengan publik dan karena pemerintah yang memiliki
wewenang untuk menggunakan dan menyalurkan segenap potensi dan sumberdaya yang
diperlukan terkait dengan penanganan bencana.
Hadirin, walau penanganan
bencana itu menjadi otoritas pemerintah, kita sebagai anggota masyarakat tidak
boleh bersikap masa bodoh dan berdiam diri memikirkan diri sendiri. Sebagai
seorang manusia harus saling tolong menolong satu sama lain, tanpa mengenal
latar belakang suku, ras maupun agama. Sesama manusia kita harus memiliki sikap
empati dan simpati kepada para korban, sehingga kita senantiasa
menjauhkan diri dari sikap menghakimi dan menyalahkan korban. Dalam penyebaran
virus corona, kita harus mampu menjadi pribadi yang bisa memutus mata rantai
penyebaran virus itu. Secara bersama kita perlu membangun kesadaran, pemahaman
dan sikap yang sama untuk secara aktif terlibat dalam mencegah penyebaran virus
corona semakin meluas, sehingga semakin mempercepat wabah ini berakhir.
Hadirin sidang jum’ah yang
berbahagia,
Di antara hal-hal yang dapat
kita lakukan sebagai seorang muslim dan sekaligus bagian dari anggota
masyarakat dalam pencegahan wabah virus corona ini adalah sebagai berikut:
1. Memperkuat dan
mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Iman yang kuat akan menuntunkan kita
pada sikap hidup yang optimis dan yakin akan pertolongan Allah. Seorang muslim
yang istiqomah dalam iman kepada Allah, maka akan ditiadakan rasa takut dalam
dirinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Fushilat ayat 30:
إِنَّ
ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ
أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ
تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata bahwa Tuhan kami adalah Allah dan mereka istiqomah,
maka malaikat akan turun kepada mereka dan berkata; “janganlah kamu merasa
takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu memperoleh surga
yang telah dijanjikan kepadamu”
Iman yang kuat akan menuntun
pula pada sikap sabar. Bersabar bagi seorang muslim hakekatnya adalah kesadaran
bahwa keburukan yang terjadi pada dirinya adalah rahmat Allah dan selanjutnya
dia akan berusaha untuk merubah kondisi buruk yang dihadapi sekarang untuk
menciptakan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang. Kebaikan yang dilakukan
tidak hanya setelah musibah terjadi, tetapi lebih dari seorang muslim akan
berusaha semaksimal mungkin menciptakan kebaikan-kebaikan jauh sebelum musibah
itu terjadi.
2. Mengisolasi diri, menahan
diri untuk tidak beraktifitas dengan banyak orang. Nabi Muhammad SAW telah
bersabda:
إِذَا
سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ
وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: "Jika kamu
mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika
terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu."
(HR Bukhari)
Hadits ini mengajarkan bahwa
kita harus berusaha menghindari keburukan yang mungkin terjadi dari suatu wabah
yang sedang berkembang di suatu wilayah. Mengisolasi dan menahan diri untuk
tidak bertemu dengan orang banyak dan atau untuk tidak bepergian, terlebih ke
daerah yang endemic merupakan suatu pilihan yang harus diambil oleh setiap
muslim. Dengan kata lain, sebagai seorang muslim dituntut untuk mampu melakukan
kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana sehingga dapat mengurangi resiko
bencana, terutama terkait korban manusia.
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
فِرَّ
مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ
“Larilah dari orang yang
terkena kusta, sebagaimana engkau lari dari singa” (HR Ahmad no.9722, dishahihkan Al Albani dalam
Silsilah As-Shahihah no.783).
Menunjukkan bahwa boleh
berusaha menghindarkan diri dari penyakit menular.
3. Saling menguatkan dan tolong
menolong. Tidak ada seorang pun yang ingin tertimpa musibah, terjangkit virus
corona. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa dirinya akan
terbebas dari virus corona. Untuk itulah setiap orang, terlebih seorang muslim,
harus mau untuk saling menguatkan dan saling tolong
menolong satu sama lain, bahu membahu bagaimana menciptakan kebaikan berupa
melakukan pencegahan agar virus corona tidak mewabah ke banyak daerah atau
tempat, dan tentu berharap tidak semakin banyak memakan korban meninggal dunia.
Saling bertukar informasi yang valid dan benar. Bahkan bila suatu saat akan
dilakukan lockdown, maka setiap anggota masyarakat bisa saling memberi dan
menjaga ketersediaan bahan pokok. Bukan sebaliknya malah memanfaatkan kondisi
bencana untuk meraup keuntungan pribadi. Al-Qur’an tegas mengajarkan kepada
kita:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ
وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Q.S. Al-Maidah ayat 2)
Hadirin yang berbahagia, itulah
tiga hal yang bisa kita jadikan pedoman dalam menghadapi situasi-situasi sulit
karena virus corona ini. Tetaplah kita dalam iman kepada Allah, jangan panik
dan terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
بَارَكَ
الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ
بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHUTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ
أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه
ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jama’ah Rahimakumullah.
Adapun terkait kegiatan ibadah
di masjid atau mushola. Upaya pembatasan kegiatan ibadah berjama’ah dan
pengajian di masjid atau mushola bukanlah untuk menjauhkan umat muslim dari
masjid. Tetapi justeru ini sebagai ikhtiar menjemput takdir Allah yang lain. Dan apabila lockdown benar benar diberlakukan oleh
pemerintah maka kita harus mentaatinya, sebagaimana fatwa MUI dan para ulama.
Dalam sebuah hadits dari Imam
Bukhori diriwayatkan bahwa Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat
sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di
wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi
Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah,
maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu
berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." Mendengar hadits tersebut,
Umar memilih kembali ke Madinah. Keputusan Umar sempat disangsikan Abu Ubaidah
bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa Khalifah Umar. Menurut
Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena bertentangan dengan perintah
Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri dari ketentuan Allah SWT,
namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan
keputusan khalifah tidak melanjutkan perjalanan karena wabah penyakit.
Total sekitar 20 ribu orang
wafat, hampir separuh penduduk Syam ketika itu. Pada akhirnya, wabah tersebut
berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Berkat rahmat Allah menganugerahkan kecerdasan kepada beliau yang menyelamatkan Syam. Hasil
tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini.
Amr bin Ash berkata:
Wahai sekalian
manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan
berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung.
Mereka pun berpencar dan
menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena
tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.
Semoga Allah segera mengangkat
musibah ini dan menghindarkan lingkungan kita dari penyebarannya.
اِنَّ
اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ
الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعْوَةِ
رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ
رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
رَبَّنَا
هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ.
وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
